
Diskusi menarik seputar pengelolaan Sumber Belajar Gugus (PSBG) antara Kadri Karim (Ketua PSBG KMG Mamajang Kota Makassar), Toto Purwanto (British Council) akhir April 2009 yang lalu.
Berbagi pengalaman dengan rekan atau lembaga yang menggeluti bidang yang sama sungguh mengasyikkan. Toto Purwanto, Program Manager/Education Management dan Governent British Council yang mengembangkan program Pendidikan Dasar di Teluk Bintuni Propinsi Papua Barat menyempatkan diri berkunjung di Pusat Sumber Belajar Gugus (PSBG) Karya Mandiri Guru-Mamajang Kota Makassar yang berlokasi di SD Inpres Bertingkat Mamajang III, untuk berbagi pengalaman dengan Pengurus PSBG, Kepala Sekolah, dan MTT, serta DLC DBE 2 Sulawesi Selatan.
Toto Purwanto di sela-sela kunjungan berbagi pengalaman dalam mengelola program pengembangan Pendidikan Dasar di Teluk Bintuni dengan program yang dikelola DBE2 dengan focus program meningkatkan kualitas pembelajaran di Sekolah Dasar, memiliki banyak kesamaan. Membangun pendekatan penyadaran dan memotivasi guru untuk memiliki interest yang kuat di dalam program adalah point penting dalam diskusi menarik di ruang PSBG. Keseriusan Toto Purwanto menggali informasi seputar pengalaman guru, kepala sekolah dan pengurus PSBG melaksanakan program kerja, tantangan yang dihadapi dan prospek pasca selesainya program DBE 2 di Sulawesi Selatan.
Menurut Kadri Karim Ketua PSBG, bahwa mengajak guru dan siswa untuk memanfaatkan PSBG memiliki tantangan tersendiri, terutama memanfaatkan waktu luang untuk berkunjung dan menggunakan bahan dan alat di PSBG, harus punya kiat tersendiri. Pertama memperkenalkan mereka akan fungsi PSBG, manfaaat bagi kualitas pembelajaran dan starter kits yang tersedia yang dapat mendukung kegiatan pembelajaran guru di sekolah. Kami harus ber bukti terlebih dahulu, dan meyakinkan rekan guru.
Lain halnya yang disampaikan, Samsuddin, MTT 2 Mamajang kepada Toto Purwanto, bahwa pemanfaatan PSBG saat ini lebih terfokus pada penggunaan starter kits, kegiatan pembuatan alat peraga murah dan pemanfaatan bahan ajar berbasis ICT dalam pembelajaran, yang harus dijadual dan diaptasikan dengan kegiatan guru di sekolah agar tidak saling mengganggu dan tumpang tindih. Program PSBG ada juga yang dilakukan secara mandiri untuk membiasaakan guru dan kepala sekolah berswadaya atau swadana melakukan kegiatan. Pengalaman yang didapatkan oleh Toto Purwanto menjadi bekal untuk memperkuat program di Teluk Bintuni, dan pertanyaan serta informasi berharga dari Teluk Bintuni, dan pengalaman mengelola program pendidikan menjadi entry point bagi pengurus PSBG.
Berbagi pengalaman dengan rekan atau lembaga yang menggeluti bidang yang sama sungguh mengasyikkan. Toto Purwanto, Program Manager/Education Management dan Governent British Council yang mengembangkan program Pendidikan Dasar di Teluk Bintuni Propinsi Papua Barat menyempatkan diri berkunjung di Pusat Sumber Belajar Gugus (PSBG) Karya Mandiri Guru-Mamajang Kota Makassar yang berlokasi di SD Inpres Bertingkat Mamajang III, untuk berbagi pengalaman dengan Pengurus PSBG, Kepala Sekolah, dan MTT, sereta DLC DBE 2 Sulawesi Selatan.
Toto Purwanto di sela-sela kunjungan berbagi pengalaman dalam mengelola program pengembangan Pendidikan Dasar di Teluk Bintuni dengan program yang dikelola DBE2 dengan focus program meningkatkan kualitas pembelajaran di Sekolah Dasar, memiliki banyak kesamaan. Membangun pendekatan penyadaran dan memotivasi guru untuk memiliki interest yang kuat di dalam program adalah point penting dalam diskusi menarik di ruang PSBG. Keseriusan Toto Purwanto menggali informasi seputar pengalaman guru, kepala sekolah dan pengurus PSBG melaksanakan program kerja, tantangan yang dihadapi dan prospek pasca selesainya program DBE 2 di Sulawesi Selatan.
Menurut Kadri Karim Ketua PSBG, bahwa mengajak guru dan siswa untuk memanfaatkan PSBG memiliki tantangan tersendiri, terutama memanfaatkan waktu luang untuk berkunjung dan menggunakan bahan dan alat di PSBG, harus punya kiat tersendiri. Pertama memperkenalkan mereka akan fungsi PSBG, manfaaat bagi kualitas pembelajaran dan starter kits yang tersedia yang dapat mendukung kegiatan pembelajaran guru di sekolah. Kami harus ber bukti terlebih dahulu, dan meyakinkan rekan guru.
Lain halnya yang disampaikan, Samsuddin, MTT 2 Mamajang kepada Toto Purwanto, bahwa pemanfaatan PSBG saat ini lebih terfokus pada penggunaan starter kits, kegiatan pembuatan alat peraga murah dan pemanfaatan bahan ajar berbasis ICT dalam pembelajaran, yang harus dijadual dan diadaptasikan dengan kegiatan guru di sekolah agar tidak saling mengganggu dan tumpang tindih. Program PSBG ada juga yang dilakukan secara mandiri untuk membiasaakan guru dan kepala sekolah berswadaya atau swadana melakukan kegiatan. Pengalaman yang didapatkan oleh Toto Purwanto menjadi bekal untuk memperkuat program di Teluk Bintuni, dan pertanyaan serta informasi berharga dari Teluk Bintuni, dan pengalaman mengelola program pendidikan menjadi entry point bagi pengurus PSBG.